0,05% Hingga Nana: Saat RRQ Berjudi di Ujung Tanduk
Royal Derby ke-40 kembali menjadi milik ONIC usai kalahkan RRQ 2-0. Nana yang sudah 7 bulan tak tersentuh jadi mimpi buruk. Peluang playoff RRQ kini kurang dari 1%. Analisis lengkap draft, mental di bawah tekanan, dan harapan tersisa.
- Developer
- Moonton
- Publisher
- Moonton
- Platform
- Android, iOS, iPadOS, HarmonyOS
Tiga Royal Derby berturut-turut tanpa satu poin pun untuk RRQ. Itu fakta yang tidak bisa dibantah. Sejak season 16 week 1, dua leg di season yang sama, hingga pembuka season 17—semua berpihak ke ONIC. Bahkan saat peluang RRQ lolos playoff hanya 0,05%, kemenangan 2-0 atas Bigetron beberapa hari sebelumnya berhasil menaikkan angka itu menjadi 6%. Kecil, tapi bukan nol.
Lalu muncullah Nana.
Di game kedua Royal Derby ke-40, ONIC mengeluarkan hero yang sudah 210 hari—sekitar 7 bulan—tidak pernah menyentuh panggung MPL. Terakhir kali dimainkan oleh Roundel dari EVOS di season 16. Banyak yang mengira ini hanya pick iseng, mungkin uji coba karena merasa sudah aman. Tapi Nana yang dimainkan Sans terbukti menjadi mimpi buruk bagi RRQ.
Dua Game, Dua Skenario yang Berbeda
Game pertama berlangsung singkat. Hanya 13 menit. ONIC yang berada di first pick langsung mengambil Harley—hero yang terbukti menjadi prioritas utama sepanjang match. Super Ken yang mencoba bertahan dengan Lancelot tidak berkutik. Hilda yang menjadi pick keempat ONIC benar-benar menghantui area jungle RRQ. Setiap kali purple buff muncul, selalu ada keributan. Setiap kali Super Toy mencoba farming, selalu ada yang menempel.
Coba bayangkan menjadi jungler yang setiap rotasinya diganggu. Mau ke atas, ada Hilda. Mau ke bawah, buff sudah raib. Akhirnya Super Toy hanya bisa mengandalkan split push—tapi dua turet tidak cukup mengejar ketertinggalan gold yang mencapai 5.000 di menit ke-10.
Yang menarik, perbedaan gold antara Super Toy dan Kelra sebenarnya tidak terlalu jauh di awal. Tapi satu kali kesalahan—Superdan terkena pick off di area turtle pertama—langsung membuat efek domino. Uranus yang sedianya bisa menjadi frontline di early game justru kehilangan level dan item. Akhirnya, seperti yang diucapkan komentator: "kiri kanannya udah gak balance."
Game kedua adalah cerita lain. RRQ sempat unggul di early. Mereka berhasil mendapatkan turtle pertama dan mengamankan kill. Untuk sesaat, ada harapan. Tapi kemudian ONIC mengeluarkan joker mereka.
Nana. Bukan sembarang Nana. Ini Nana dengan Molina yang dipercaya, dipadukan dengan Lancelot milik Kairi dan Chou sebagai roamer. Kombinasi yang membuat tim fight di jarak dekat menjadi bunuh diri bagi RRQ. Setiap kali mereka mengumpul, Molina meledak ke multiple target. Setiap kali mereka mencoba inisiasi, free immortal dari pasif Nana membuat hero itu selalu selamat satu langkah lebih dulu.
Sans sendiri mengakui setelah pertandingan: "Itu seperti biasa yang cewek yang kasih. Kita harus pilih." P3, singkatan dari "Pedington"—pelatih mereka—ternyata masih menjadi kunci di balik pick-pick kejutan.
Mental di Bawah Pressure dan Realita Playoff
Yang paling menyedihkan bukanlah kekalahan 2-0. Tapi bagaimana RRQ yang baru saja menang 2-0 atas Bigetron—tim kuat musim ini—langsung kembali ke "settingan pabrik". Komentator menyebutnya dengan frasa yang familiar: "penyakit lagi". Pola yang sama: early game sebenarnya bisa dipegang, tapi mid hingga late game selalu hilang arah.
Kondisi Superdan di game pertama cukup mewakili. Memakai Uranus dengan talent emblem assassin—bukan tank—karena ingin bisa 1-on-1 di lane. Tapi tanpa item, Uranus di early game sangat bonyok. Begitu kena pick off dua kali, level ketinggalan, item tidak jadi, dan rasa percaya diri untuk membuka map pun ragu.
Ada satu momen di game pertama yang mungkin luput dari banyak penonton. Setelah Lord pertama diambil ONIC, RRQ sebenarnya memiliki celah empat lawan lima karena Kyoy tertanggal. Tapi alih-alih memanfaatkan, Super Toy yang maju terlalu ke depan langsung dieksekusi. Komentator saat itu hanya bisa berkata: "Sekalinya dia maju, majunya melesat ke depan melewati masa depan."
Itu bukan soal skill. Itu soal keputusan di bawah tekanan.
Angka Kecil yang Masih Hidup
Setelah kekalahan ini, peluang RRQ ke playoff kembali turun drastis. Dari 6%, kini berada di kisaran kurang dari 1%. Secara matematis, mereka masih bisa lolos jika berakhir dengan 6 win dan 10 lose—itu pun bersyarat, tergantung hasil tim peringkat keenam.
Sans dalam interview setelah pertandingan cukup jujur: "Sebenarnya udah susah banget sih buat RRQ. Tinggal nothing to lose aja, main lepas selesaikan match-nya."
Tapi untuk konteks lokal Indonesia, angka 1% bukanlah angka yang asing. Tim-tim besar seperti RRQ punya basis penggemar yang percaya pada keajaiban. Hanya saja, keajaiban tidak datang dari harapan kosong. Dibutuhkan perubahan fundamental, terutama pada rotasi early game dan kemampuan mempertahankan objektif di tengah tekanan.
Pertanyaan yang tersisa: apakah RRQ akan terus menjadi tim yang hanya bisa bangkit setelah tekanan berkurang, atau bisakah mereka bermain lepas tanpa beban—seperti yang Sans sarankan—dan membuktikan bahwa Royal Derby bukanlah kutukan?
Sementara itu, ONIC sudah mengamankan tiket playoff. Dan Nana, yang sempat dianggap usang, kembali mengingatkan bahwa di MPL, tidak ada yang benar-benar mati. Kecuali mungkin peluang tim yang sudah terlalu sering kalah di menit-menit krusial.
Share
Komentar
Newsletter